Akankah Kita Lebih Bahagia dengan Gaya Hidup Minimalis?
1 min read

Akankah Kita Lebih Bahagia dengan Gaya Hidup Minimalis?

fundacioncatalinahoffmann.org –  Semakin banyak orang yang berminat untuk menjalani gaya hidup minimalis. Tren itu meningkat berkat popularitas Marie Kondo dengan metode KonMarinya. Lantas apa itu sebenarnya minimalisme? Apa benar bisa meningkatkan rasa senang?

Misalnya, membaca buku, menonton film dokumenter, membaca majalah gaya hidup,
seraya mengurangi pekerjaan, komunikasi, informasi dan kompetisi.

Marie Kondo sendiri mengamalkan gaya hidup minimalis nya dalam metode KonMari. Sesuai dengan namanya,
metode KonMari mengamalkan nilai-nilai Jepang dan dirancang agar penganutnya mencukupi diri dengan barang-barang dan aktivitas yang lebih diperlukan.

Rick Hanson seorang psikolog yang terlibat dalam film dokumenter yang mengangkat tentang gaya hidup minimalis
berjudul Minimalism: A Documentary About the Important Things beranggapan bahwa banyak orang yang menganggap materi sebagai sumber kebahagiaan dalam hidup.

“Saya pikir kita bingung tentang apa yang akan membuat kita bahagia.
Banyak orang berpikir bahwa harta benda menjadi hal paling utama

Lebih lanjut, Pandelaere mengungkapkan bahwa “materialis” rata-rata bukan orang yang paling bahagia. Bahkan, Rik Pieters dari Tilburg University mengungkapkan adanya hubungan antara materialisme dan meningkatnya rasa kesepian dari waktu ke waktu. Selain itu dalam penelitian tersebut juga membuktikan adanya korelasi antara materialisme dan kesepian juga depresi.

Sedangkan masih menurut psychologytoday.com jika orang meninggalkan perilaku materialisme berlebihan dan hanya menyimpan barang-barang yang lebih bisa menambah nilai, “mereka dapat menjalani hidup yang lebih memuaskan.”

BACA JUGA : Memahami Gaya Hidup Minimalis di Mata Generasi Muda 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *